Kamis, 08 Oktober 2015

Orang Mentawai
















 Oleh : Laurensius Sarogdok



1.1.Pandangan tentang Nenek moyang Mentawai

Menurut para peneliti dari ilmu antropologi menyatakan bahwa  orang Mentawai  berasal dari Nias dan Batak (Dr. Oudemans). Dan ada juga yang berpendapat bahwa nenek moyang orang Mentawai berasal dari bangsa Mongolia.
Selain di atas ada juga yang menyatakan bahwa secara keseluruhan nenek moyang orang Indonesia termasuk Mentawai berasal dari Proto Melayu (nenek moyang tertua). Dari sekian pendapat para pakar antropologi, baik dari mancan Negara maupun domistik, orang Mentawai terutama para generasinya dibingungkan dengan segala teori-teori yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Orang Mentawai memiliki sendiri pengetahuan tentang asal kedatangan nenek moyang mereka. Walaupun melelui budaya tutur, namun para orang tua  memilikinya  secara turun-temurun dan abadi dalam ingatan. Semakin banyak orang melakukan penelitian, semakin juga orang Mentawai dibuat bingung, seakan-akan kebudayaan mereka yang secara turun-temurun tidak dihargai dengan menciptakan berbagai pameo kedatangan nenek moyang mereka.
Pada dasarnya sejarah yang sulit diungkap oleh berbagai pihak adalah sejarah kehidupan orang Mentawai sejak dahulu. Hal ini disebabkan karena orang Mentawai tidak memiliki bukti yang jelas, seperti tulisan. Namun secara ilmiah yang masuk akal asal nenek moyang orang Mentawai itu adalah dari  Sikebbukat Siburu’ (nenek moyang dahulu). Hal ini bisa saja disebut Proto Malayu. Karena Proto Melayu tersebar dimana-mana termasuk Indonesia. Kebudayaan pada zaman tua masih dibawah sampai sekarang, salah satunya adalah budaya seni rajam yaitu membuat gambar-gambar ditubuh.
Menurut para ahli antropologi jika diperhatikan bahasa dan kebudayaan orang Mentawai, nenek moyang orang Mentawai berasal dari Homo Sapiens yang paling awal datang ke Indonesia. Homo Sapiens berasal dari zaman Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun sampai sekarang.
Orang Siberut digolongkan ke dalam rumpun Proto Malayu (Suzuki) yang mempunyai kebudayaan neolitik dengan sedikit dipengaruhi zaman batu dan belum dipengaruhi zaman perunggu, Budhisme, Indhuisme maupun Islam. Proto Malayu merupakan nenek moyang tertua dibanding dengan deutero melayu. Nenek moyang dari deutero malayu adalah suku Jawa, Minangkabau, Bali, dan Bugis, Makasar dan Sunda.
Orang Mentawai termasuk suku bangsa subras Veddoid yaitu ras khusus yang tidak dapat diklasifikasikan. Selain orang Mentawai ada juga suku Kubu, Tomuna, Toala dan Suku Gayo. [1] Baik kebudayaan ataupun adat-istiadat mereka bersifat tradisional. Kehidupan mereka tergantung pada sumber daya alam yang mereka memiliki dari temuan nenek moyang mereka.
Orang Mentawai termasuk dalam golongan suku bangsa Melayu dengan ciri fisik berkulit sawo matang. Melayu adalah campuran dari suku Dravida yang berkulit hitam, ras mongoloid yang berkulit kuning, dan Aria yang berkulit putih.[2] Berdasarkan ciri-ciri tersebut, orang mentawai termasuk dalam kelompok ras melayu.
Suku bangsa Melayu diperkirakan datang ke Indonesia pada tahun 1500 – 2500 SM. Kedatangan mereka melalui dua jalur. Pertama melalui semenanjung Melayu, kemudian menuju Sumatera, Kalimantan, Jawa dan sekitarnya. Kedua melalui Filipina kemudian menuju Sulawesi. Mereka ini dari daratan Asia.[3]
Ciri khas suku bangsa Melayu dapat dilihat dari tiga hal yaitu adat istiadat, bahasa, dan agama. Adat istiadat suku bangsa Melayu mempunyai kekhasan tersendiri, yaitu keramahan dan keterbukaan. Kedua sifat ini menyebabkan adat istiadat suku bangsa Melayu mampu menerima perbedaan-perbedaan yang ada disekitarnya, sehingga dengan mudah dapat membaurkan diri dengan orang lain atau masyarakat lain yang mempunyai adat istiadat yang berbeda dengan mereka.
Pada sekitar tahun 500 SM, datang lagi gelombang migrasi penduduk dari ras Melayu Austronesia dari teluk Tonkin. Mereka ini disebut Deutero Melayu. Membawa kebudayaan perunggu yang dikenal dengan sebutan kebudayaan Dong Son.[4] Namun kedatangan Deutero Melayu ini tidak mempengaruhi kebudayaan orang Mentawai. Suku Mentawai tidak mengenal perenggu, besi dan emas. Hal ini telihat dari assesoris kebudayaan yang dimiliki. Nenek moyang orang Mentawai seperti yang disampaikan di atas lebih sedikit dipengaruhi oleh zaman batu. Ini terbukti adanya batu untuk menghidupkan api dengan cara mengadukan atau menggesekkan dua batu sehingga menimbulkan percikan api. Makanya nenek moyang Mentawai ini dari zaman neolitik yang dipengaruhi oleh zaman batu, tetapi jauh dari zaman perunggu. Orang Mentawai mengenal besi atau logam hanya pada zaman penjajahan Belanda. Orang Belanda mengenal kepulauan Mentawai kira-kira pada tahun 1700 – 1842. Ketangan Belanda di Indonesia pada tahun 1596. Bangsa Belanda berkuasa di Indonesia 350 tahun, namun di Mentawai bangsa Belanda tidak tertarik untuk menjajahnya. Mereka justru menyukai kebudayaan yang dimiliki oleh orang Mentawai. Mereka datang ke Mentawai hanya untuk mempelajari kebudayaan Mentawai walaupun mereka itu dari latar belakang militer. Artinya bahwa nenek moyang orang Mentawai yang  pertama datang ke Mentawai dibanding bangsa Belanda menjajah Indonesia. Dari interaksi antara suku Mentawai dengan Belanda sangat baik. Sehingga Belanda mau memperkenalkan benda-benda besi, logam untuk dimiliki oleh orang Mentawai. Salah satunya adalah seperti gong (ngong) yang terbuat dari besi kuningan. Bangsa Belanda membawa gong dari daerah Jawa, karena orang Belanda juga sangat cinta dengan kesenian. Maka gong ini diberikan kepada nenek moyang Mentawai sebagai ganti tempat tinggal yang ditempati.[5]

1.2.Periode Kedatangan Nenek moyang Mentawai

Menurut hasil interview dengan orang tua di daerah Sarereiket Pulau Siberut serta bukti-bukti analisis kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia,  bahwa kedatangan nenek moyang Mentawai dan suku lain di Pulau Siberut ada tiga periode, yaitu :

1.      Nenek moyang Proto Melayu (Sikebbukat Suburu’)

Secara Ilmiah atau ilmu pengetahuan yang ditulis para pakar antropologi dan sejarahwan bahwa pada zaman Pleistocene 10.000 tahun yang silam, ketika masa Es permukaan laut di daerah Asia Tenggara naik 200 m. Semua daerah di Asia dinaiki oleh laut sehingga para penghuni Asia menyelamatkan diri dengan cara mencari pulau-pulau yang lebih tinggi. Suku di Asia tersebut digolongkan dalam rumpun Proto Melayu yang memiliki kebudayaan neolitik. Suku bangsa ini berasal dari Homo Sapiens yang melebar diseluruh dunia termasuk Indonesia dan kepulauan daratan Sumatera termasuk Mentawai (Pulau Siberut dan Nias). Homo Sapiens ini paling awal datang ke Indonesia.
Pada masa penyebaran, Proto Melayu tidak serta-merta datang ke Pulau Siberut. Mereka pertama kali singgah di kepulauan Nias dan berkembang disana. Kepulauan Mentawai tidak mereka ketahui dimana posisinya. Setelah lama bermukim di kepulauan Nias, dilakukan penyebaran kembali dan menemukan pulau Siberut. Dari Kepulauan Batu nenek moyang menyeberang lautan hingga sampai di Pulau Siberut. Ini pada zaman neolitik yang dipengaruhi sedikit zaman batu. Bukti yang dimiliki adalah adanya batu pembuat api  yang disebut  tatai’tai’ yang pernah dibawa pada zaman batu sampai neolitik.
Nenek moyang ini datang dan singgah di Pantai Simalegi. Kehidupan mereka berburuh ikan di laut. Mereka  hidup dan berkembang di daerah tersebut dan kemudian perlahan-lahan memasuki hutan untuk membuka lahan. Teori ini sangat masuk akal dengan penjelasan para orang tua di Siberut yang berhubungan dengan kedatangan Sikebbukat Siburu’ di Pulau siberut.
Nenek moyang orang Mentawai dahulu memiliki kesaktian yang luar biasa. Alam bisa ditundukkan dan bergaul dengan lingkungan alam tanpa merusak. Saat itu mereka memahami konsep bahwa alam merupakan kehidupan sepanjang masa. Alam memiliki kekuatan yang dasyat dan harus bersahabat (paalei) dengan alam (leleu, seksek, koat, loinak, pauma’uma’, paguruigurui).

2.      Imigran dari Nias

Setelah beberapa tahun lamanya,  maka datanglah orang Nias ke Pulau Siberut mencari tempat yang aman. Kedatangan mereka ada yang sampai di Muara Simatalu dan ada yang singgah di Pantai Simalegi. Orang Nias ini disebut dalam bahasa Mentawai adalah Sabaigua. Artinya setengah manusia dan setengah hantu. Mereka suka memakan daging mayat manusia. Dahulu jika ada orang yang meninggal, tidak dikubur melainkan dibuat tempatnya dan digantung di atas dengan ditopang empat potong kayu.
Orang NIas kemudian  menetap di Mentawai. Mereka tidak berani berjalan di jalan setapak atau daerah terbuka. Mereka hanya berjalan di dalam sungai dengan memakai tutup kepala daun keladi. Keturunan Nias ini atau Sabaigua sampai sekarang masih ada di Siberut dengan memakai nama nenek moyang mereka Sabaiguana.[6]

3.      Kedatangan penjajah Belanda
Selama 350 tahun bangsa Belanda menduduki Indonesia, tetapi hanya tiga tahun saja mereka mengenal Kepulauan Mentawai. Tentara Belanda datang ke Mentawai melalui kapal-kapal dagang yang ditumpangi tidak menjajah, melainkan mempelajari kebudayaan suku Mentawai. Mereka tidak melakukan intimidasi terhadap penduduk setempat.
 Pada saat Belanda memasuki Mentawai mereka lebih dominan tinggal di daerah pesisir. Mereka  membawa tahanan yang disebut Sararattei, yang artinya tahanan yang dirantai atau budak yang dirantai. Ada tahanan yang berasal dari Nias, Jawa, Batak, Makasar yang dibawa oleh Belanda sebagai porter dan mereka berhasil melarikan diri pergi  bersembunyi dan meminta perlindungan kepada orang Mentawai dan menikahi orang Mentawai. Maka keturunan mereka menjadi berkembang dalam suku Mentawai yang akhirnya menjadi keturunan perempuan walaupun mereka memakai suku Mentawai.

4.      Kedatangan Bangsa Jepang
Tentara Jepang datang ke Mentawai pada tahun 1942. Mereka melakukan penjajahan di Mentawai dengan cara memperbudak penduduk untuk mendatarkan bukit-bukit dan membuat lubang tempat persembunyian. Ada banyak bukti sejarah yang ditinggalkan oleh tentara Jepang di Pulau Siberut, seperti benteng kecil, lubang, dan bukit di pastoral Siberut Selatan yang pernah didatarkan oleh para pekerja paksa. Berdasarkan sejarah bangsa Indonesia bahwa bangsa Jepang menyerah ketika Hiroshima dan Nagasakhi di bom oleh tentara sekutu. Kondisi menyerahnya tentara Jepang di Mentawai, terutama di Muara Siberut Selatan adalah kira-kira pukul 10.00 wib terdengar suara pesawat tempur di udara. Semua pekerja paksa berlarian untuk sembunyi karena menyangka akan terjadi perang antara TNI dan tentara Jepang. Dari pesawat itu ditebarkan banyak lembar kertas yang bertuliskan, “moerdeka! Kita Soedah Moerdeka!”. Saat itu ada seorang mandor dari penduduk pribumi yang bernama Marueian yang menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Mentawai kepada semua pekerja paksa dengan kata “bajak! Alepa’an atapasaggak! Amamanangan ita!”. Akhirnya semua pekerja langsung mengangkat tangan keatas dengan bersorak,”moerdeka!”. Tiba-tiba semua tentara Jepang menyerah sambil meletakkan senjata di tanah. Di laut sudah Nampak kapal perang Indonesia yang berisi tentara nasional dan tentara sekutu untuk melucuti tentara Jepang.[7] Tetapi Jepang tidak meninggalkan pelanggaran moral di Mentawai sehingga sampai saat ini tidak ada keturunan Jepang di Mentawai.

5.      Kedatangan suku Minangkabau
Kedatangan suku Minangkabau masih dikategorikan baru. Diperkirakan pada tahun 1900-an. Namun tidak terlalu signifikan terjadi pengaruh kebudayaan Mentawai  saat itu. Tetapi karena kepulauan Mentawai dimasukkan ke dalam administrasi pemerintahan Padang Pariaman Sumatera Barat tahun 70-an, maka mulailah pengaruh kebudayaan Minangkabau merambat ke dalam kebudayaan Mentawai, seperti bahasa, agama dan assesoris pernikahan. Ini terjadi di daerah-daerah kecamatan. Suku Minangkabau lebih suka tinggal di pinggir pantai. Karena berdasarkan pengalaman merantau bahwa pantai merupakan pusat transportasi sehingga tidak sulit melakukan interaksi dengan dunia luar dan melakukan perdagangan.
Kedatangan nenek moyang orang Mentawai tidak membawa kebudayaan tulisan atau kode-kode yang bersifat sandi.  Hal ini membuktikan bahwa nenek moyang orang Mentawai berasal dari zaman neolitik yang dipengaruhi sedikit zaman batu. Sehingga sampai sekarang pun kita tidak bisa membuktikan adanya silsilah keturunan yang bersifat tulisan atau kata-kata sandi. Kebudayaan yang dibawa oleh nenek moyang adalah berburuh, hidup berpindah-pindah dan tato yang merupakan bentuk seni di tubuh yang unik dan mahal harganya bagi orang Mentawai.
1.3.Marga pertama dan penyebaran  Orang Mentawai
            Sejak kedatangan nenek moyang pertama di Mentawai, mereka tidak memulai kehidupan di hutan, melainkan di tepi pantai. Memang lama mereka hidup di pesisir pantai. Setelah mereka mulai berkembang, akhirnya mereka menyadari bahwa tidak cukup untuk hidup di Pantai, mereka pun mulai menuju perbukitan dan hutan belantara. Di hutan mereka mulai membuka lahan dan menanam pisang hutan. Mereka juga berburuh untuk kebutuhan sehari-hari. Semakin lama, mereka semakin berkembang dan mulai memikirkan nama kelompok mereka. Seperti yang dituturkan oleh para orang tua di kampung Rokdok Sarereiket Desa Madobag Kecamatan Siberut Selatan, bahwa nama marga pertama adalah Sagou’gou’. Menurut Bakli Samanggeak( tokoh adat) Dusun Ugai Desa Madobag, bahwa munculnya marga Sagou’gou’ adalah, ketika dua orang bersaudara (nenek moyang orang Mentawai) yang bernama Lagonan dan Kutkut Dere sedang melakukan pesta. Silagona  menyembelih babi setelah itu pisau sembelih dibuang di bawah rumah, maka disuruh adiknya Sikutkut Dere untuk mengambil pisau tersebut. Setelah adiknya pergi ke bawah rumah untuk mengambil pisau sembelih yang dibuang oleh Silagona, tiba-tiba dari atas rumah Silagona menumpahkan darah babi di badan adiknya yang sedang di bawah rumah. Semua badan Sikutkut Dere berdarah dan akhirnya ia dikejar oleh anjing. Karena takut digigit anjing akhirnya ia lari terbirit-birit hingga sampai di rumah tante mereka. Karena kasihan, tante mereka itu memberikan lima telur ayam sebagai pelempar anjing. Setelah itu ia lari lagi sambil dikejar seekor anjing. Maka telur yang ada ditangannya digunakan sebagai pelempar anjing hingga sisa dua butir. Akhirnya ia sampai di tepi sungai. Dua butir telur tersebut diletakkan di pangkal kayu, kemudian ia pergi mandi untuk mebersihkan badannya yang berlumuran darah babi. Sedang mandi, ia mendengar suara perempuan berbicara satu dengan yang lain. Ia pun keluar dari sungai dan melihat ada dua orang wanita cantik sedang tersenyum kepadanya.
            Akhirnya dua wanita yang berasal dari telur itu dijadikan istrinya. Maka banyaklah keturunannya dan mereka pun berkembang. Keturunan ini disebut marga Sagou’gou’, yang artinya berasal dari ayam.
            Secara garis besarnya dasar penyebaran nenek moyang orang Mentawai ada dua, yaitu ; pertama masalah buah ambacan hutan (Sipeu) dan kedua masalah babi hutan pingsan dan lepas kembali (Sibela siberi). Banyak orang menyatakan bahwa penyebaran orang mentawai didasari atas perluasan wilayah atau mencari lahan baru. Kalau yang ini jelas tahap kedua, tetapi yang jelas terlebih dahulu timbul masalah sehingga terjadi perpecahan marga atau keluarga dan meninggalkan keluarga induk pergi kewilayah lain. Di wilayah yang ditemukan memulai kehidupan baru dengan melakukan pemetaan wilayah dengan cara member batas-batas wilayah atau tanah.
            Masalah Sipeu terjadi ketika sebatang pohon ambacan hutan berbuah dan mulai matang, para kaum laki-laki membuat kandang kecil di bawah pohon ambacan sebagai tempat posisi jatuhnya buah ambacan (Sipeu). Jika buah ambacan jatuh ke dalam kandangnya, maka buah ambacan tersebut menjadi miliknya. Namun ada buah ambacan yang diganti dan dimasukkan buah yang kecil. Sedangkan jejak jatuhnya yang diganti itu besar. Ketika sipemilik kandang datang melihat kandangnya, ia marah dan mencaci maki semua orang yang memiliki kandang-kandang kecil dibawah pohon ambacan. Maka dari situ mereka berpisah dan mencari tempat lain.
            Kemudian masalah babi hutan lepas. Saat musim buah laggurek babi hutan memakan buahnya yang jatuh di bawah. Karena buah laggurek ini beracun, akhirnya lima ekor babi itu pingsan. Salah seorang nenek moyang orang Mentawai tiba di pangkal  laggurek dan melihat babi hutan sudah mati. Ia tidak mengetahui kalau babi hutan itu hanya pingsan akibat memakan buah laggurek. Ia pun pergi memanggil semua kaumnya untuk membantu mengangkat babi yang pingsan. Namun hujan pun turun. Dibelakngnya semua babi hutan itu siuman kembali dari pingsan dan lari. Nenek moyang orang Mentawai ini telah kembali dan membawa semua kaummnya. Namun setelah sampai di pangkal laggurek mereka melihat tidak ada lagi babi di sana. Para kaumnya pun marah dan kecewa dan memanggil dia dengan nama sebutan Sibela Siberi. Karena ia tidak suka nama itu, ia menganggap suatu penghinaan akhirnya ia pergi meninggalkan klennya.
Berdasarkan di atas bahwa sistem penyebaran marga atau klen di Mentawai di mulai dari pertikaian kecil dan perluasan wilayah. Ketika terjadi pertikaian maka mereka akan pergi meninggalkan suku induk dan membentuk kelompok lagi dengan memakai marga baru. Demikian juga dengan perluasan wilayah. Mereka mencari lahan untuk berladang dengan cara menjelajah hutan belantara. Jika sudah ada jejak orang lain atau marga lain, mereka akan beralih kewilayah lain. Tanah atau wilayah yang ditemukan akan diberi tanda batas. Tanda-tanda tersebut berupa bukit, ujung bukit, sungai dan pohon. Jadi dimana mereka berada atau tinggal, jika ada sungai maka mereka akan membentuk kelompok dan memakai nama marga sama dengan nama sungai atau kondisi lain yang bisa dianggap cocok untuk nama marga.
            Jadi penamaan-penamaan marga ini sangat dekat dengan alam disekeliling mereka. Seperti sungai, bukit, tanah, kayu, benda-benda lain dan keadaan yang dirasakan.

1.4.Jalur Perjalanan atau Penyebaran Nenek Moyang
            Jalur perjalanan nenek moyang dahulu ada tiga, yaitu ; jalur darat,  sungai dan laut. Bagi nenek moyang yang memakai jalur darat dan sungai,  menemukan wilayah perbukitan dan hutan yang dianggap zona inti. Sedangkan perjalanan yang memakai jalur laut,  menemukan wilayah bagian pesisir dan menguasai pulau-pulau kecil. Oleh karena itu secara adat daerah bahwa bukit, hutan, sungai, laut dan pulau di Mentawai merupakan milik orang Mentawai. Walaupun ada Taman Nasional di Pulau Siberut yang memiliki wilayah zona inti, tetapi wilayah tersebut merupakan tanah suku yang sejak dahulu telah ditemukan oleh nenek moyang orang Mentawai, salah satunya suku Satoleuru. Suku ini merupakan salah satu suku terbesar di pulau Siberut dan memiliki wilayah yang luas di pulau Siberut, baik di Siberut Utara sampai di Siberut Selatan. Namun wilayah ini tetap memiliki batas-batas dengan suku lain. Tetapi ada juga suku lain yang memiliki wilayah yang luas selain suku Satoleuru.
            Suku ini menyebar dari Simatalu dan memakai tiga jalur perjalanan, yaitu darat, sungai dan laut. Ketika mereka memakai jalur perjalanan darat mereka memakai suku Satoleuru. Kemudian mereka juga mengelilingi lautan Pulau Siberut, akhirnya mereka memakai nama suku Sakoan (orang laut). Selanjutnya mereka juga memakai jalur sungai hingga sampai di hulu Sungai Sarereiket mereka berpisah mencari lahan masing-masing. Namun suku lain seperti Satoutou selalu mengikuti perjalanan suku Satoleuru sampai terjadi suatu persoalan Suku Satoleuru dan Suku Satoutou berpisah dibukit Sigarena. Sedangkan bukit Sigarena merupakan milik Suku Satoleuru.
            Setiap penyebaran melalui jalur laut yang dilakukan nenek moyang Mentawai memakai kalabba’ (sampan besar yang terbuat dari kayu besar dan motif pembuatannya kasar). Penyebaran jalur darat dilakukan dengan jalan kaki. Sedangkan penyebaran melalui jalur Sungai memakai o’o’ru’ (rakik) yang terbuat dari bambu.
            Dalam penyebaran nenek moyang Mentawai, terjadi pertemuan ditengah hutan dan kemudian mereka bersatu dan mendirikan rumah sebagai tempat berkumpul untuk mendiskusikan kegiatan selanjutnya. Jadi dalam satu rumah ada banyak suku di dalamnya yang kemudian menjadi tippu suku (saudara suku).
1.5.Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemajemukan pada suku Mentawai
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemajemukan pada suku Mentawai antara lain faktor geografis, keberadaan perusahaan, terbentuknya kabupaten Kepulauan Mentawai dan faktor sejarah. Berikut ini akan diuraikan mengenai kedua faktor tersebut.


[1] . Indriana F. , Mengenal Masyarakat Indonesia, CV. Chyyas Putra, 2010, hal. 4
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] . Etty Sugiarti, S.Pd, Ensiklopedia, Zaman Prasejarah, CV. Pamularsih, 2010, hal. 16
[5] . Hasil interview dengan bapak Kosmas Asit Sarogdok, Januari, 2010.
[6] . Hasil interview dengan Selester Saguruwjuw, Rokdok, Januari 2011
[7] . Paulek Sakerebau (alm) kepala suku Sakerebau di Sikabaluan tahun 1989. Beliau merupakan saksi langsung yang terlibat dalam kerja paksa oleh tentara Jepang pada umur 16 Tahun. Beliau meninggal pada umur 102 tahun dan merupakan kakek saya dari ibu. Saat SD beliau selalu menuturkan kejadian-kejadian masa penjajahan dan tentang suku-suku.